PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL TWO STAY-TWO STRAY
PADA SISWA SDN JARANAN

Meydina Nur Fitriani1, Putri Intan Lasarati2, Harmi Oktavia3
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Abstract: This study aims to reveal (1) the effectiveness of TSTS (Two Stay-Two Stray) cooperative learning, (2) the effectiveness of learning on improving speaking skills. This research was conducted at SD N Jaranan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. The result showed that: (1) the cooperative learning model of TSTS (Two Stay-Two Stray) to increase speaking skills, (2) cooperative learning in Indonesian language learning in elementary schools, (3) the application of interesting learning models. Based on the results of the study can be done by using the teacher applying the TSTS (Two Stay-Two Stray) model, because the results of theis study indicate that students can use the TSTS (Two Stay-Two Stray) learning model to improve speaking skills in the development of Indonesian.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan (1) keefektifan pembelajaran kooperatif TSTS (Two Stay-Two Stray), (2) keefektifan pembelajaran terhadap peningkatan keterampilan berbicara. Penelitian ini dilaksanakan di SD N Jaranan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) pembelajaran kooperatif model TSTS (Two Stay-Two Stray) berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan berbicara, (2) pembelajaran kooperatif pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, (3) penerapan model pembelajaran menarik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa sudah saatnya guru menerapkan model TSTS (Two Stay-Two Stray), karena hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TSTS (Two Stay-Two Stray) untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia.
Kata Kunci: Model pembelajaran, Two Stay-Two Stray, keterampilan berbicara.


Keterampilan berbahasa merupakan salah satu keterampilan yang dipelajari di pendidikan formal. Menurut Henry G. Tarigan menjelaskan bahwa terdapat empat komponen pada keterampilan berbahasa. Komponen-komponen tersebut yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Setiap keterampilan itu, berhubungan erat sekali dengan tuga keterampilan lainnya dengan cara yang beranekaragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.
                        Henry G. Tarigan (1985) menjelaskan bahwa pengertian berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi, artikulasi atau kata-kata untuk mengekspesikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan.
                        Kenyataannya pada saat ini di kelas V SD Negeri Jaranan masih ditemukan bahwa pembelajaran keterampilan berbicara masih berjalan kurang optimal. Permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran keterampilan berbicara menurut pengamatan peneliti di sekolah dasar tersebut hanya sekitar sepertiga dari jumlah siswa kelas V di sekolah dasar tersebut yang berani berbicara aktif dalam pembelajaran. Rasa kepercayaan diri siswa masih kurang untuk mengungkapkan ide ataupun gagasan secara lisan di dalam kelas. Hal tersebut menandakan bahwa keterampilan berbicara siswa belum berkembang secara optimal.
Kondisi saat ini yaitu guru kelas V masih perlu perbaikan dalam menerapkan model pembelajaran pada pembelajaran keterampilan berbicara. Jadi dibutuhkan penerapan model pembelajaran yang inovatif dan menarik. Guru dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray  pada pembelajaran keterampilan berbicara. Menurut Suyatno, model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray adalah cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap dikelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, dan laporan kelompok.
Pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray yang dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tentunya akan membantu siswa dalam berlatih berbicara. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkat usia siswa. Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota sekelompok, tetapi bisa juga bekerja sama dengan kelompok lain yang memungkinkan terciptanya keakraban sesama teman dalam suatu kelas dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa. Sementara itu, kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini adalah jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh ganjil harus berkelipatan empat, peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil, dan kunjungan dari 2 orang anggota kelompok yang satu ke kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaan kelas serta dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain itu, guru juga harus membutuhkan banyak persiapan.
Berdasarkan penjelasan yang telah diungkapkan di atas dan dari hasil pengamatan bahwa peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa di kelas V sekolah dasar.
 METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di SDN Jaranan yang beralamat di desa Pringgolayan Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul Propinsi  Daerah  Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas V di SDN Jaranan yang berjumlah 35 siswa. Siswa laki-laki berjumlah 15 dan siswa perempuan berjumlah 20.
Teknik pengumpulan data merupakan aspek yang penting dalam penelitian. Berdasarkan teknik pengumpulan data ini peneliti akan mendapatkan informasi dan data yang dibutuhkan untuk mengukur keberhasilan tindakan. Data didapat dari sumber data yaitu dari seluruh siswa kelas V di SDN Jaranan. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Peneliti melakukan observasi proses kegiatan pembelajaran, keadaan dan perilaku siswa selama proses pembelajaran, dan cara guru dalam menyampaikan pembelajaran. Observasi dicatat berdasarkan instrumen observasi yang telah disiapkan sebelumnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
         Tujuan umum penelitian kualitatif ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray pada siswa kelas V SD Negeri Jaranan.
Manfaat dari penelitian dengan menggunakan model pembelajaran TSTS (Two Stay-Two Stray) yaitu siswa menjadi lebih aktif dalam mengungkapkan ide atau gagasan di dalam kelas. Dengan itu dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SD Negeri Jaranan.
Guru dapat lebih memahami dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Selain itu juga dapat memberikan sesuatu yang baru mengenai model pembelajaran yang inovatif dan menarik untuk meningkatkan keterampilan berbicara.

            SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian kualitatif yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Berbicara Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Model Two Stay-Two Stray pada siswa SDN Jaranan” maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Penggunaan model TSTS dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini telihat pada perolehan skor pada penggunaan langkah TSTS oleh peneliti, prosentase keterampilan berbicara, serta prosentase siswa yang telah mencapai ketuntasan. Skor perolehan dari hasil penggunaan langkah TSTS oleh peneliti mengalami peningkatan.
Dengan memperhatikan kesimpulan yang tedapat pada peneliti di atas pada kesempatan ini penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1.      Bagi Guru
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran TSTS terhadap keterampilan berbicara siswa, maka guru dapat menggunakan model pembelajaran tipe TSTS sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dalam pembelajaran di kelas.
2.      Bagi Siswa
Pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS siswa diharapkan lebih aktif dan kreatif dalam berdiskusi dan bekerjasama dengan siswa lain untuk bisa memecahkan masalah yang diberikan oleh guru sehingga hasil belajar khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
3.      Bagi Sekolah
Diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik dan berguna bagi sekolah itu sendiri dalam rangka perbaikan pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesa.
           DAFTAR PUSTAKA
Fathurrohman, M. (2017). Model-model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Susanto, A. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tarigan, H. G. (2008). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Bandung.