PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL TWO STAY-TWO STRAY
PADA SISWA SDN JARANAN
Meydina
Nur Fitriani1, Putri Intan Lasarati2, Harmi Oktavia3
Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar
FKIP Universitas Sarjanawiyata
Tamansiswa
E-mail : meydina14@gmail.com
Abstract:
This study aims to reveal (1) the effectiveness of TSTS
(Two Stay-Two Stray) cooperative learning, (2) the effectiveness of learning on
improving speaking skills. This research was conducted at SD N Jaranan,
Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. The result showed that: (1) the cooperative
learning model of TSTS (Two Stay-Two Stray) to increase speaking skills, (2)
cooperative learning in Indonesian language learning in elementary schools, (3)
the application of interesting learning models. Based on the results of the
study can be done by using the teacher applying the TSTS (Two Stay-Two Stray)
model, because the results of theis study indicate that students can use the
TSTS (Two Stay-Two Stray) learning model to improve speaking skills in the
development of Indonesian.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk
mengungkapkan (1) keefektifan pembelajaran kooperatif TSTS (Two Stay-Two
Stray), (2) keefektifan pembelajaran terhadap peningkatan keterampilan
berbicara. Penelitian ini dilaksanakan di SD N Jaranan, Banguntapan, Bantul,
Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) pembelajaran kooperatif
model TSTS (Two Stay-Two Stray) berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan
berbicara, (2) pembelajaran kooperatif pada pembelajaran Bahasa Indonesia di
sekolah dasar, (3) penerapan model pembelajaran menarik. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disarankan bahwa sudah saatnya guru menerapkan model TSTS (Two
Stay-Two Stray), karena hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dapat
mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TSTS (Two Stay-Two
Stray) untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada pembelajaran Bahasa
Indonesia.
Kata Kunci: Model pembelajaran, Two Stay-Two
Stray, keterampilan berbicara.
Keterampilan berbahasa merupakan salah satu
keterampilan yang dipelajari di pendidikan formal. Menurut Henry G. Tarigan
menjelaskan bahwa terdapat empat komponen pada keterampilan berbahasa.
Komponen-komponen tersebut yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills). Setiap keterampilan itu, berhubungan erat sekali
dengan tuga keterampilan lainnya dengan cara yang beranekaragam. Dalam
memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan
yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian
berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara
kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada
dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.
Henry G. Tarigan (1985)
menjelaskan bahwa pengertian berbicara adalah kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi, artikulasi atau kata-kata untuk mengekspesikan, menyatakan atau
menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Tujuan utama dari berbicara adalah
untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif,
seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin
dikomunikasikan.
Kenyataannya pada saat
ini di kelas V SD Negeri Jaranan masih ditemukan bahwa pembelajaran
keterampilan berbicara masih berjalan kurang optimal. Permasalahan-permasalahan
dalam pembelajaran keterampilan berbicara menurut pengamatan peneliti di
sekolah dasar tersebut hanya sekitar sepertiga dari jumlah siswa kelas V di
sekolah dasar tersebut yang berani berbicara aktif dalam pembelajaran. Rasa
kepercayaan diri siswa masih kurang untuk mengungkapkan ide ataupun gagasan
secara lisan di dalam kelas. Hal tersebut menandakan bahwa keterampilan
berbicara siswa belum berkembang secara optimal.
Kondisi saat ini yaitu guru kelas V masih perlu
perbaikan dalam menerapkan model pembelajaran pada pembelajaran keterampilan
berbicara. Jadi dibutuhkan penerapan model pembelajaran yang inovatif dan
menarik. Guru dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray pada pembelajaran keterampilan berbicara.
Menurut Suyatno, model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray adalah cara siswa berbagi pengetahuan dan
pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa
bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap dikelompoknya untuk
menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok
asal, kerja kelompok, dan laporan kelompok.
Pembelajaran
melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two
Stay-Two Stray yang dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tentunya
akan membantu siswa dalam berlatih berbicara. Kelebihan model pembelajaran
kooperatif tipe TSTS adalah dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan
semua tingkat usia siswa. Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota
sekelompok, tetapi bisa juga bekerja sama dengan kelompok lain yang
memungkinkan terciptanya keakraban sesama teman dalam suatu kelas dan lebih
berorientasi pada keaktifan siswa. Sementara itu, kekurangan dari model
pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini adalah jumlah siswa dalam satu kelas
tidak boleh ganjil harus berkelipatan empat, peralihan dari seluruh kelas ke
kelompok kecil, dan kunjungan dari 2 orang anggota kelompok yang satu ke
kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaan kelas serta dapat
menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain itu, guru juga harus membutuhkan
banyak persiapan.
Berdasarkan penjelasan yang telah diungkapkan di
atas dan dari hasil pengamatan bahwa peneliti menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Two Stay-Two Stray
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara
siswa di kelas V sekolah dasar.
Jenis
penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di SDN
Jaranan yang beralamat di desa Pringgolayan Kecamatan Banguntapan Kabupaten
Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan
dalam kurun waktu tiga bulan. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas V di
SDN Jaranan yang berjumlah 35 siswa. Siswa laki-laki berjumlah 15 dan siswa
perempuan berjumlah 20.
Teknik
pengumpulan data merupakan aspek yang penting dalam penelitian. Berdasarkan
teknik pengumpulan data ini peneliti akan mendapatkan informasi dan data yang
dibutuhkan untuk mengukur keberhasilan tindakan. Data didapat dari sumber data
yaitu dari seluruh siswa kelas V di SDN Jaranan. Teknik pengumpulan data yang
digunakan oleh peneliti yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Peneliti
melakukan observasi proses kegiatan pembelajaran, keadaan dan perilaku siswa
selama proses pembelajaran, dan cara guru dalam menyampaikan pembelajaran.
Observasi dicatat berdasarkan instrumen observasi yang telah disiapkan
sebelumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan umum penelitian kualitatif ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui
model pembelajaran kooperatif tipe Two
Stay-Two Stray pada siswa kelas V SD Negeri Jaranan.
Manfaat dari penelitian dengan
menggunakan model pembelajaran TSTS (Two Stay-Two Stray) yaitu siswa menjadi lebih aktif dalam
mengungkapkan ide atau gagasan di dalam kelas. Dengan itu dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas V SD Negeri Jaranan.
Guru dapat lebih memahami dalam penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two
Stray untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Selain itu juga dapat memberikan
sesuatu yang baru mengenai model pembelajaran yang inovatif dan menarik untuk
meningkatkan keterampilan berbicara.
SIMPULAN
DAN SARAN
Berdasarkan
hasil penelitian kualitatif yang berjudul “Peningkatan Keterampilan Berbicara
Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Model Two Stay-Two Stray pada siswa SDN Jaranan” maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut: Penggunaan model TSTS dapat meningkatkan keterampilan
berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini telihat pada perolehan
skor pada penggunaan langkah TSTS oleh peneliti, prosentase keterampilan
berbicara, serta prosentase siswa yang telah mencapai ketuntasan. Skor
perolehan dari hasil penggunaan langkah TSTS oleh peneliti mengalami
peningkatan.
Dengan
memperhatikan kesimpulan yang tedapat pada peneliti di atas pada kesempatan ini
penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi
Guru
Berdasarkan
hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran TSTS terhadap
keterampilan berbicara siswa, maka guru dapat menggunakan model pembelajaran
tipe TSTS sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dalam pembelajaran
di kelas.
2. Bagi
Siswa
Pada
proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS
siswa diharapkan lebih aktif dan kreatif dalam berdiskusi dan bekerjasama
dengan siswa lain untuk bisa memecahkan masalah yang diberikan oleh guru sehingga
hasil belajar khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
3. Bagi
Sekolah
Diharapkan hasil
penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik dan berguna bagi sekolah itu
sendiri dalam rangka perbaikan pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesa.
DAFTAR
PUSTAKA
Fathurrohman, M. (2017). Model-model
Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Susanto, A. (2013). Teori Belajar
dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tarigan, H. G. (2008). Berbicara
Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Bandung.